Elang Bondol (Brahminy Kite)

Posted on

Elang bondong (Brahminy kite) meruapakan salatu satu jenis burung pemangsa berukuran sedang dari keluarga Accipitridae dan Genus Haliastur. Elang bondol juga di kenal dengan sebutan elang laut selain elang laut perut putih alias elang WBSE para falconry menyebutnya. Elang ini disebut dengan Brahminy kite dalam bahasa inggrisnya dan Haliastur indus dalam bahasa ilmiahnya. Elang bondol dapat ditemukan di Sri Lanka, Nepal, India, Pakistan, Bangladesh, asia tenggara and Australia. Jenis elang ini sering terbang bebas di daerah terutama di pantai dan di lahan basah pedalaman, di mana burung predator ini memakan ikan mati dan mangsa lainnya. Burung pemangsa ini sering bertengger dan berdiam diri dalam waktu yang lama di tempat bertengger sebelum menukik ke mangsa di air atau di tanah. Elang ini ketika sudah dewasa alias usia mature memiliki bulu tubuh berwarna coklat kemerahan yang kontras dengan kepala dan dada yang berwarna putih sehingga membuat elang ini mudah dibedakan dari burung pemangsa lainnya.

Elang Bondol, Brahminy Kite

Ciri-ciri Elang Bondol

Elang bondol memiliki ukuran tubuh antara 44–52 cm dari ujung paruh sampai ujung ekor dan rentang sayap berkisar 110-125 cm dengan berat tubuhnya mencapai sekitar 409–650 gram untuk elang bondol jantan. Pada umumnya, jenis burung pemangsa kelamin betina memiliki ukuran dan berat tubuh lebih besar dibandingkan jantan yakni sekitar 434–700 gram. Elang ini memiliki sayap yang lebar dengan ekor pendek dan membulat ketika membentang. Bagian kepala, leher dan dada berwarna putih, sisanya berwarna merah bata pucat, bagian ujung bulu primer berwarna hitam, dan tungkai berwarna kuning. Pada individu anak secara keseluruhan berwarna coklat gelap, pada beberapa bagian bergaris-garis putih mengkilap.

Baca juga : Elang laut WBSE dan harganya

Pesebaran dan Jenis Elang Bondol

Daerah pesebaran jenis elang ini dapat ditemukan di India, Cina selatan, Asia tenggara, Indonesia, Australia. Sedangkan di Indonesia sendiri penyebarannya ada di Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, Papua yang dapat ditemukan di daerah pedalaman. Di Kalimantan sendiri, elang bondol dapat di temui di Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Keberadaan elang bondol disana melimpah. Burung pemangsa ini pertama kali dideskripsikan oleh ahli ornitologi Prancis Mathurin Jacques Brisson pada tahun 1760 sebagai l’Aigle Pondicery, dan diberikan bahasa Latin binomial Aquila pondiceriana. Naturalis Belanda Pieter Boddaert pertama kali menggunakan nama Falco indus pada 1783.

Jenis Elang Bondol

Ada empat Jenis elang bondol yang diakui, antrara lain :

  • Brahminy Kite (nominate) (Haliastur indus indus – Boddaert, 1783)
      Pesebaran : Pakistan, India and Sri Lanka (melalui asia tenggara)
  • Brahminy Kite (intermedius) (Haliastur indus intermedius – Blyth, 1865)
      Pesebaran : Semenanjung Malaysia, dan di Sunda Besar dan Kecil, Sulawesi, Filipina, dan Kepulauan Sula
  • Brahminy Kite (girrenera) (Haliastur indus girrenera – Vieillot, 1822)
      Pesebaran : Kepulauan Maluku, Papua nugini, Kepulauan Bismarck, dan pesisir utara Australia
  • Brahminy Kite (flavirostris) (Haliastur indus flavirostris – Condon and Amadon, 1954)
      Pesebaran : Pulau solomon

Baca juga ; Macam-macam jenis Burung hantu

Kebiasan Elang Bondol

Elang bondol lebih mirip burung pemakan bangkai dibanding burung pemangsa, namun burung ini memangsa buruan kecil seperti ikan, kepiting, kerang, katak, pengerat, reptil, dan bahkan serangga. Jenis elang ini mencari makan di atas daratan maupun di atas permukaan air, burung ini terbang melayang di ketinggian 20 – 50 meter di atas permukaan. Elang ini menangkap mangsanya di atas permukaan air dengan cakarnya, burung ini tidak menyelam ke dalam air. Elang bondol juga memakan bangkai dari sisa-sisa makanan dan sampah sehingga burung ini cukup umum ditemukan di sekitar pelabuhan dan pesisir tempat pengolahan ikan. Walaupun sering memakan bangkai, elang ini bukanlah pemangsa yang pasif. Burung ini mendirus burung-burung pantai di area pantai berlumpur sambil terbang untuk mengidentifikasi kelamahan, dapat menyerang pemangsa yang lebih besar seperti elang-laut dada-putih untuk mencuri makanan. Burung pemangsa ini memakan tangkapannya saat terbang untuk menghindari pencurian.

Reproduksi Elang Bondol

Ketika musim kawin elang bondol tiba, untuk daerah Asia Selatan adalah sekitar dari Desember hingga April. Di bagian selatan dan timur Australia, antara Agustus hingga Oktober, dan April hingga Juni di utara dan barat. Sarang-sarang itu dibangun dari ranting-ranting kecil dan yang dilapisi dengan dedaunan, dan terletak di berbagai pohon, seperti pohon bakau yang dipakai berkali-kali sepanjang tahun. Namun dalam kasus lain, elang bondol juga dapat bersarang di tanah di bawah pohon. Dengan telur sebayak 1-2 telur berbentuk oval putih atau kebiruan-kebiruan berukuran 52 x 41 mm yang dierami oleh betina selama 26 sampai 35 hari.

Baca juga : Macam-macam jenis elang

Elang bondol dalam kebudayaan

Pada tahun 1989, elang bondol dan salak condet dijadikan sebagai maskot kota Jakarta. Hal itu bisa dilihat di kawasan Cempaka Putih. Di sana terdapat sebuah patung tegak berdiri, yakni patung “burung bondol membawa salak condet”. Di India, dianggap sebagai representasi kontemporer Garuda, burung suci Wisnu. Di Malaysia, Pulau Langkawi setelah burung (‘kawi’ menunjukkan sebuah batu seperti-oker used yang digunakan untuk menghias tembikar, dan mengarah pada warna bulu primer burung). Sebuah fabel dari tengah Pulau Bougainville menceritakan seorang ibu yang meninggalkan anaknya di bawah pohon pisang sambil berkebun, dan si bayi melayang ke langit sambil menangis dan berubah menjadi Kaa’nang, yaitu elang bondol, Dan kalungnya berubah menjadi bulu burung

Baca juga : Elang terbesar Indonesia

Harga elang bondol

Sedangkan harga elang bondol bervariasi yang bisa anda cek di daftar harga elang, namun tetap jenis burung pemangsa ini dalam status dilindungi undang