Elang Jawa, Javan Hawk Eagle (JHE)

Posted on

Elang Jawa adalah salah satu jenis burung predator endemik di pulau jawa. Elang ini salah satu jenis elang berukuran sedang yang hampir sama dengan elang che yang berkisar antara 60-70 cm dan ukuran terkecil antara 56-61 cm dari ujung paruh sampai ujung ekor dengan rentang sayap sekitar 110-130 cm. Elang ini meiliki nama ilmiah dengan sebutan Nisaetus bartelsi atau javan hawk eagle dalam bahasa inggrisnya. Selain sebutan tadi, para falconry menyebutnya elang JHE atau burung garuda oleh sebagian masyarakat indonesia menyebutnya, hal itu tidak lain di karenakan elang ini menjadi lambang negara Republik Indonesia. Elang ini masuk dalam genus Nisaetus, ordo Accipitriformes dan keluarga Accipitridae. Ciri khas dari elang jawa terletak pada bagian kepala yang memiliki jambul 2-4 bulu dengan panjang hingga 12 cm, hal ini sama dengan elang sulawesi dan juga elang flores meskipun warna dari elang ini tidak sama dengan ke dua elang tersebut. Namun kami di sini tidak akan membahasa ke 3 elang tersebut melainkan akan membahas tentang elang jawa
harga elang jawa

Ciri-ciri elang jawa

Selain memiliki jambul, kepala elang jawa berwarna coklat kemerahan dan tengkuk yang coklat kekuningan (kadang tampak keemasan bila terkena sinar matahari). Dibagian punggung dan sayap berwana coklat gelap. Kerongkongan keputihan dengan garis (sebetulnya garis-garis) hitam membujur di tengahnya. Ke bawah, ke arah dada, coret-coret hitam menyebar di atas warna kuning kecoklatan pucat, yang pada akhirnya di sebelah bawah lagi berubah menjadi pola garis (coret-coret) rapat melintang merah sawomatang sampai kecoklatan di atas warna pucat keputihan bulu-bulu perut dan kaki. Dibagian kaki ditutupi dengan bulu yang juga sama dengan elang IBE, dengan ekor kecoklatan dengan empat garis gelap dan lebar melintang yang tampak jelas di sisi bawah, ujung ekor bergaris putih tipis. Ketika terbang, elang Jawa serupa dengan elang brontok, namun cenderung tampak lebih kecoklatan.

Harga Elang Jawa

Elang jawa pada umumnya hidup dan bersarang dengan ketinggian sekitar 20-30 m dari permukaan tanah di hutan primer. Ranting pohon dan dedaunan untuk tempat bertelur sebanyak satu butir saja pada bulan januari sampai juni dengan masa pengeraman sekitar 47 hari. Anak dari elang ini akan diasuh oleh induknya sampai bisa mandiri untuk berburu seperti pelbagai jenis reptil, burung-burung sejenis walik, punai, dan bahkan ayam kampung. Juga mamalia berukuran kecil sampai sedang seperti tupai dan bajing, kalong, musang, sampai dengan anak monyet.

Di habitatnya, populasi elang Jawa diperkirakan berjumlah 600-900 burung, atau sekitar 300-500 elang jawa dewasa. Berdasarkan rasio 1: 1 dari elang dewasa untuk remaja dan burung dewasa, seperti yang tercatat dalam studi B. van Balen in litt 2012.
Dibawah ini video elang jawa yang sedang di latih

Dengan populasi yang kecil, elang jawa terus menghadapi ancaman besar terhadap kelestariannya bahkan mencapai status terancam punah, yang disebabkan oleh kehilangan habitat dan eksploitasi jenis. Pembakaran liar dan konversi hutan menjadi lahan pertanian telah menyusutkan tutupan hutan primer di Jawa. Dalam pada itu, elang ini juga terus diburu orang untuk diperjual belikan di pasar gelap sebagai satwa peliharaan. Karena kelangkaannya, memelihara burung ini seolah menjadi kebanggaan tersendiri, hal ini menjadikan harga elang jawa cukup tinggi sekitar 1.5 jutaan meskipun tidak semahal harga elang WBSE