Jalak Bali, Bali Myna (Leucopsar Rothschildi)

Jalak bali – Jalak bali merupakan salah satu jenis burung kicau dari keluarga Sturnidae dan Genus Leucopsar atau merupakan salah satu dari beberapa jenis burung jalak yang dapat dijumpai di Indonesia. Burung yang memiliki nama latin Leucopsar rothschildi atau Bali myna merupakan salah satu jenis burung endemik Indonesia khususnya Bali. Burung jalak bali termasuk salah satu jenis burung dilindungi Indonesia yang masih menjadi primadona dalam jenis burung jalak karena keanggunan dan suara merdunya.

Burung jalak Bali adalah spesies burung kicau yang sangat indah dan unik sekali, keberadaanya semakin langka saja, kelangkaan tersebut bukan karena predator di habitat aslinya yang masuk dalam lingkaran rantai makanan hewan atau binatang, tetapi kelangkaan tersebut karena ulah manusia manusia yang mengincar dan memburu burung tersebut untuk diperdagangkan ataupun sebagai koleksi pribadi, termasuk deforestasi atau penggundulan hutan, tentu hal ini sangat disayangkan, spesies endemis yang hidup di pulau Bali sekarang ini disinyalir hanya puluhan ekor saja di alam bebas, sehingga burung ini masuk sebagai satwa liar yang dilindungi.

Burung yang di kenal dengan sebutan Curik bali ini pertama ditemukan di kawasan hutan Taman Nasional Bali Barat (TNBB), ditemukan pertama kali oleh Erwin Stresemann seorang ahli burung (ornitologis) dari Jerman pada tahun 1911 yang mencatatnya pertama kali ketika kapal Freiburg yang mereka tumpangi terdampar di Bali. Kemudian pada tahun 1912 dilakukan proses pengidentifikasian oleh Stresemann di Museum Hayati (natural history museum) di Tring yang didirikan oleh Lord Lionel Walter Rothschild sebagai penghargaan atas dukungan ini, Stresemann kemudian menamainya dengan nama Leocopsar Rothschildi. Burung ini juga merupakan satu-satunya spesies endemik Bali dan pada tahun 1991 dinobatkan sebagai lambang fauna Provinsi Bali.

Ciri-ciri Jalak Bali, Bali Myna (Leucopsar Rothschildi)

Jalak bali tergolong jenis burung berukuran sedang dengan panjang tubuh sekitar 25 cm dan berat tubuhnya sekitar 70 sampai 115 gram. Bulunya 90% berwarna putih bersih, pada ujung bulu sayap dan bulu ekornya ditemukan warna hitam lebarnya 25 mm. Pelupuk matanya berwarna biru tua mengelilingi bola mata, paruh runcing dengan panjang 2–3 cm, di bagian ujungnya berwarna kuning kecoklatan, rahangnya berwarna abu-abu kehitaman. Burung jantan bentuknya lebih indah, mempunyai jambul di kepalanya dengan beberapa helai bulu berwarna putih bersih. Panjang dari ujung paruh sampai ujung ekor kurang lebih 25 cm, panjang paruh 3 cm, panjang kepala 5 cm, panjang leher 2 cm, panjang sayap 13 cm, panjang ekor 6 cm, dengan warna kehitaman di ujungnya sepanjang 2 cm dan panjang kaki (tidak termasuk paha) 4 cm. Jumlah bulu sayap 11-12 helai dan jumlah bulu ekor 17-18 helai.

Dapatkan : Suara Jalak Nias Jantan dan Betina Gacor Untuk Masteran

Habitat dan Kebiasaan Jalak Bali

Burung jalak ini menyukai habitat hutan mangrove, hutan rawa, hutan musim dataran rendah dan daerah savana. Penyebaran jalak bali secara alami hanya terdapat di Taman Nasional Bali Barat (TNBB). Selain itu, penyebaran jalak bali terdapat di daerah Tegal Bunder, Lampu Merah, Batu Gondang, Prapat Agung, Batu Licin, dan Teluk Brumbun.

Di habitat alaminya burung jalak ini termasuk jenis burung yang suka terbang secara berkelompok. Burung ini mempunyai aktivitas harian yang sama, yaitu setelah matahari terbit yaitu pada pukul 05.00-05.30 WITA mereka mulai terbang secara berkelompok menuju tempat makan/minum, dan mereka kembali menuju tempat tidur sebelum matahari terbenam yaitu pada pukul 14.30 WITA. Kegiatan harian ini akan berhenti sama sekali pada pukul 18.45 WITA. Radius pergerakan hariannya bervariasi dari 3-10 km tergantung pada keadaan lingkungannya. Meskipun di alam jalak bali merupakan burung yang paling liar namun aktivitas yang dilakukannya selalu diiringi komunikasi suara antar pasangan- pasangan yang ada. Jalak bali merupakan burung yang menyukai kebersihan. Satwa ini suka bermain air untuk membersihkan badannya. Setelah itu, mereka mengeringkan tubuhnya dengan cara mengigit-gigit bulunya satu persatu. Pengeringan bulu ini dilakukan dengan berjemur sinar matahari dan bertengger di ranting-ranting pohon. Bulu-bulunya akan mengering dan kembali mengkilap bahkan semakin bercahaya

Makanan Jalak Bali

Jalak bali biasanya mencari makan dengan cara membongkar atau menggali tanah gembur dengan menggunakan paruhnya. Tujuannya adalah untuk menangkap serangga, larva serangga, dan juga menangkap cacing. Burung Jalak bali ini juga mencari makanan pada permukaan tanah yang ada di padang rumput. Pada saat mencari makan, burung jalak bali pada umumnya berkelompok. Burung Jalak Bali memiliki kebiasaan mengkonsumsi buah-buahan yang ada di hutan. Selain itu juga makan ulat dan serangga yang ada melimpah di hutan.

Dapatkan : Suara Jalak Kebo Gacor Untuk Masteran dan Pikat Burung

Musim Kawin Jalak Bali

Menurut Alikodra (1987) dan Mas’ud (2010), jalak bali merupakan satwa monogamus, yaitu hanya memiliki satu pasangan dalam satu musim kawin, sehingga sex rasionya adalah 1:1 dan umur mulai proses perkawinan 7-9 bulan. Menurut Thompson dan Brown (2001), burung jalak ini melakukan proses perkawinan di alam pada umur dua tahun serta masa produktif jalak bali dalam menghasilkan keturunan untuk jantan sampai umur 17 tahun dan untuk betina sampai umur 12 tahun.

Menurut Alikodra (1987), perkawinan jalak bali di alam terjadi pada bulan September-Desember, sedangkan menurut Kurniasih (1997) perkawinan burung jalak ini terjadi pada bulan Januari-Maret. Hal ini berdasarkan ditemukannya jalak bali dengan sayap dan ekor yang belum sempurna pada bulan Juni.

Jalak Bali pada umumnya melacak lubang yang ada di pohon, seringkali situs-situs yang digali oleh burung pelatuk yang dipagari dengan daun, batang tanaman dan bulu. Mereka bisa memasuki periode kawin pada saat bulan September sampai dengan Maret. Biasanya ditandai dengan berpasangan burung jantan dan juga burung betina. Sedangkan untuk periode bertelur biasanya berlangsung pada bulan Januari hingga bulan Maret. Untuk jumlah telur yang dihasilkan oleh induknya biasanya sejumlah 2 hingga 4 butir yang dierami sekitar 16 hari oleh kedua indukan. Telur yang dihasilkan cirinya dengan warna hijau kebiruan dan dengan diameter rata-rata 3 cm.

Burung jalak bali terhitung memiliki presentase penetasan yang sangat rendah. Sebab hanya satu ataupun dua butir saja yang dapat menetas. Kondisi tersebut merupakan diantara penyebab susahnya mengembangkan populasi dari burung Jalak ini.

Perkawinan burung jalak ini di dalam penangkaran terjadi sepanjang tahun. Biasanya jalak bali yang telah bertelur dan menetaskan anaknya selama 14 hari akan bertelur kembali setelah anaknya berusia sekitar 4-5 minggu atau jarak waktu bertelur sekitar dua bulan. (Mas’ud 2010)

Populasi Jalak Bali

Ketika pertama kali diidentifikasi pada 1910, diperkirakan 300 – 900 ekor hidup di alam liar. Hasil sensus yang dilakukan sejak tahun 1974 sampai dengan 1986, menunjukkan keadaan perkembangan populasi yang tidak menggembirakan. Dari tahun 1974 sampai dengan 1981 terjadi peningkatan jumlah, tetapi sejak tahun 1983 terjadi penurunan populasi. Hal ini disebabkan karena lingkungan yang menekan perkembangan populasi Jalak Bali, tidak sebanding dengan kemampuan survivalnya. Menurut hasil observasi Pujiati (1987), diduga populasi Jalak ini hanya dibawah 100 ekor. Kemudian menurut Dijkman (2007), pada tahun 1990, ketika populasi Jalak Bali hanya 15 individu, ada upaya konservasi dengan merilis beberap burung dari penamgkaran dan meningkat antara 35-55 individu. Kemudian pada survei Maret 2005, ditemukan 24 individu dan pada tahun 2008 diyakini populasi burung jalak ini berkisar 50 individu. Lalu, pada tahun 2009 Kenwrick (2009), mencatat di Pulau Nusa Penida tercatat sebanyak 65 individu dewasa dan 62 juvenile. Saat ini, tercatat 115 individu burung jalak ini, dan diperkirakan itu adalah jumlah maksimum. Hal ini juga berkaitan dengan sistem perhitungan yang ditetapkan oleh IUCN, yakni individu yang dihitung adalah individu yang telah dewasa, dan kategori dewasanya itu, jika individu tersebut re-introduksi maka harus menghasilkan anakan terlebih dahulu.

Ijin pemilikan dan pemeliharaan Jalak Bali

Setiap orang berkesempatan untuk memelihara ataupun memiliki burung jenis endemik ini, selain harga burung yang fantastis tentu juga disertai dengan syarat-syarat khusus untuk memeliharanya. Untuk ikut menangkarkan burung Jalak ini harus disertai ijin dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA). Burung yang dibeli juga dari hasil penangkaran generasi ke tiga, bukan diambil dari habitat aslinya.

Baca juga : Jalak Putih, Black-winged Starling (Acridotheres Melanopterus)

Jika anda seorang kolektor burung dan ingin membeli burung Jalak Bali, pastikan tempat anda membeli juga memiliki ijin resmi, memiliki asal-usul legal yang bisa memperdagangkan Jalak Bali tersebut, karena kalau tidak bisa jadi anda mendapatkan masalah di kemudian hari, karena memelihara hewan langka dan dilindungi pemerintah. Tapi kalau burung tersebut bisa memilih, mungkin mereka lebih baik memilih bebas di habitat aslinya tidak ditaruh dalam ruang sempit seperti di penjara, seperti halnya juga manusia, pasti hatinya akan menjerit kalau hidupnya dikekang apalagi di penjara.

Demikianlah informasi yang dapat kami sampaikan, semoga bermanfaat dan menambah wawasan anda tentang Jalak Bali, Bali Myna (Leucopsar Rothschildi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *