Lovebird Hybrid vs Non Hybrid, Lebih Prospek Mana?

Posted on

Lovebird Hybrid vs Non Hybrid – Tidak sedikit para pecinta burung lovebird yang bertebaran di sosial media khususnya facebook yang bilang dengan embel-embel kata lovebird hybrid, ntah mereka sok tahu atau memang hanya mengandalkan kata-katanya tanpa memikirkan arti dari kata hybrid tersebut. Padahal arti kata hybrid tersebut merupakan penggabungan dua unsur yang berlawanan tetapi tetap mempertahankan karakter unsur – unsur tersebut, jadi kalau dibahasakan kebahasa peternakan adalah mengawinkan silangkan. Namun kali ini kami tidak akan mengulas tentang permasalah seperti itu melainkan kami disini tentang masalah lebih prospesk mana antara lovebird hybrid dan non hybrid. Dan tulisan ini hanya merupakan pandangan alias pendapat kami secara sepihak dan bukan bertujuan untuk menajamkan perbedaan. Hobbies lovebird di Indonesia adalah yang paling unik se dunia. Kenapa begitu? Karena hanya di Indonesia lovebird bisa di apresiasi dari dua sisi yang berbeda, suara dan keindahannya. Ketika ada ajakan untuk beternak lovebird “galur murni”, maka timbul berbagai macam reaksi Seperti biasa, ada yang pro dan ada yang kontra. kami pribadi lebih suka menyikapi kontroversi ini dengan pendapat sebagai berikut:

Lovebird Hybrid vs Non Hybrid, Lebih Prospek Mana?

Lovebird Hybrid vs Non Hybrid, Lebih Prospek Mana?

Lovebird Hybrid

Selama ini banyak yang baik secara sadar ataupun tidak telah melakukan cross species alias hybrid dalam beternak lovebird. Yang tidak sadar mungkin karena minimnya pengetahuan dan terbatasnya dana. Sementara yang sadar mungkin menyadari potensi lovebird hybrid dalam bidang tarik suara. Terbukti memang banyak lovebird hybrid yang menjadi jawara di arena lomba suara. Untuk yang sudah langganan juara, harganya so pasti fantastis. Jika diternak, yang antri dan booking anakannya tidak sedikit walaupun harganya dibandrol selangit. Inilah salah satu kelebihan lovebird hybrid.

Baca juga ; 9 Mutasi Warna Lovebird ini Tidak Boleh Dikombinasikan

Kelebihan lainnya, hybrid bisa menciptakan transmutasi yang menurut kalangan tertentu sangat indah dan yang pasti harganya bisa menguras isi dompet, seperti parblue, biola, pale fallow dll. Masalahnya, pernahkah kita berpikir berapa banyak usaha yang diperlukan untuk menciptakan transmutasi yang berkelas? Tanpa perlu menjelaskan perlunya pengetahuan dasar genetika, berapa banyak waktu dan dana yang terbuang? Berapa banyak penelitian trial dan error yang harus dilakukan? Apakah transmutasi parblue, biola dan lainnya tercipta dalam waktu satu malam seperti kisah Bandung Bondowoso? Silahkan cari jawabannya.

Baca juga ; Agar Lovebird Jantan Stabil Saat Lomba

Jadi apa yang harus saya lakukan?
Jika anda beternak lovebird hybrid semata-mata karena suaranya dan anda yakin harganya memuaskan, silahkan saja dilanjutkan. Jika anda beternak lovebird hybrid karena ingin menciptakan transmutasi baru, juga silahkan saja dilanjutkan. Tapi jangan lupa dengan konsekwensinya seperti yang dijelaskan diatas.

Permasalahan muncul ketika lovebird hybrid yang dihasilkan ternyata tidak berbakat mengikuti lomba suara dan juga tidak berhak mengikuti kontes kecantikan. Apa yang harus dilakukan dengan lovebird hybrid ini? Tentu saja dijual. Harganya? Kira-kira saja sendiri.

Baca juga ; Makanan Lovebird Agar Gacor dan Siap Lomba

Lovebird Non Hybrid

Sama seperti lovebird hybrid, lovebird yang Non Hybrid atau kita gunakan saja istilah galur murni, juga bisa diikutkan dalam lomba suara dan terbukti tidak sedikit yang moncer walaupun menurut beberapa orang tidak sebanyak lovebird hybrid. Benar atau tidaknya kami sendiri tidak jelas karena belum pernah diadakan survey tentang kebenaran tersebut

Beternak lovebird non hybrid atau kita istilahkan galur murni saja, mungkin masih belum banyak dilakukan oleh hobbies di Indonesia. Kalaupun sudah, kami yakin jumlahnya masih sedikit dan itupun baru dilakukan beberapa tahun terakhir ini. Hal ini kemungkinan karena terbatasnya materi dan pengetahuan.

Lewat kontes kecantikan alias beauty contest (BC) yang digelar leh KLI pada saat KLI Cup 1 bulan Juni 2013 di Yogyakarta, semakin banyak yang ingin mengetahui dan beternak lovebird galur murni. Mengapa demikian? Ini disebabkan BC bukanlah kontes warna tapi kontes kecantkan alias keindahan dari lovebird itu sendiri. Lovebird selain warna hijau dan biru yang selama ini harga pasarannya berada diatas kedua warna tersebut belum tentu bisa memenangkan kontes tersebut jika tidak memenuhi standard penilaian yang mencakup 9 kriteria. Ini sudah dibuktikan digelaran KLI Cup dimana warna hijau justru mengalahkan mutasi warna lainnya seperti kuning, blorok bahkan halfsider. Jadi anggapan bahwa basic keindahan hanya merupakan milik atau mainan orang-orang yang berduit adalah tidak benar, malah sebaliknya.

Baca juga ; Kriteria Dasar Penilaian Lomba Burung Kicau

Sisi positif dari adanya BC, harga lovebird dengan warna standard alias hijau secara perlahan bisa terdongkrak kembali sehingga diharapkan tidak ada lagi istilah “kok si hijau harganya semakin mengenaskan?”. Padahal sepengetahuan kami hijau alias wildtype alias “ori” harganya juga sangat menggiurkan.

Alasan lain dalam memilih beternak galur murni adalah terbukanya kesempatan yang lebih besar jika suatu saat ada rekan-rekan yang berniat meng export lovebird.

Dalam tahapan yang lebih extrem, kami mengenal beberapa peternak di Indonesia (bisa dihitung dengan jari tangan) yang hanya mengoleksi dan beternak lovebird jenis wildtype alias hijau. Tidak ada lutino, blorok, alovebirdino, dan lainnya. Murni hanya hijau. Alasan mereka, lovebird adalah species yang perlu dilindungi kemurniannya.

Lalu kami harus beternak lovebird hybrid atau non hybrid? Semuanya kembali kepada anda. kami hanya mengeluarkan pendapat kami. Untung ruginya sudah pasti bisa anda prediksi. Yang pasti, lovebird hybrid hanya bisa mengikuti kontes suara dan tidak bisa mengikuti kontes kecantikan sementara non hybrid bisa mengikuti keduanya.

Akhir kata, mari kita buang perbedaan. Jika ada yang mengajak beternak galur murni, sebaiknya disikapi dengan bijaksana dan jika ada yang tetap mau beternak lovebird hybrid yang kontra ya tetap harus legowo. Semuanya hanya bersifat mengajak bukan memaksa. Toh ini hanya sekedar hobby yang tidak memandang apakah lovebird hybrid ataupun non hybrid